Puisi Tentang Ibu Terbaik

Karya puisi ibu terbaik
Puisi tentang ibu ini menjadi karya puisi Hida yang kesekian kalinya, puisi ini mengupas tentang perjuangan seorang ibu dalam memberikan kasih saying serta perhatian buat anak-anaknya.

TANPAMU IBU

Tanpamu..... Ibu
Tiada berarti ku jalani hari-hari
Serasa sepi dan menyiksa hati
Dirimu.....
Hadirmu....
Ku harapkan selalu
Kaupun datang penuhi panggilanku
Biarpun kadang,
Ku berikan duri untukmu
Namun kau balas dengan mawar
Meski sering,
Ku buatmu illfeel
Namun tak jarang
Kau balas itu
Dengan air mukamu yang penuh kasih sayang
Walau sulit
Bahkan sakit
Tak pernah kau merasa terhimpit
Dirimu, selalu permudahkan jalanku
Selalu kau permudahkan batu yang mengganggu
Oh, ibu....
Dirimu adalah pelita hatiku


Puisi Ibu terbaik diatas memberikan pesan yang baik untuk diri kita agar tetap berbakti sama orang tua khususnya ibu dan menyayanginya sampai kapanpun.

KAU DAN HATIMU

Puisi bahasa indonesia

Judul Puisi   : KAU DAN HATIMU
Karya Dari  : Hida Koma
Facebook   : www.facebook.com/hidakoma
Email          : hidakoma@gmail.com
Twitter        : @hidakoma
=============================

Masih terdengar suara jeritan
Melengking
Bunyinya nging-nging begitu nyaring,
Garing!
Setandus padang pasir merindu air
Kau dan hatimu bagai musim
Panas dan dingin,
Kadang semi,
Lalu akhirnya gugur tanpa lebih dulu matur
Tapi ku tak bawur,
Dan masih ku lihat dengan jelas nyanyian angin barat yang kau tiupkan
Berhembus, beriku kesejukan
Mereda panas
Menyelimut dingin
Kau …
Tetaplah sang angin meski musim ganti bergilir





Puisi Indah Pada Waktunya

Puisi indah pada waktunya menjadi puisi cinta kesekian kali yang Puisi Indonesia bagikan untuk pembaca setia.

Puisi-puisi indah pada waktunya
=============================
Judul Puisi : INDAH PADA WAKTUNYA 
Karya Dari : Hida Koma
Facebook    : www.facebook.com/hidakoma
Email          : hidakoma@gmail.com
Twitter         : @hidakoma

=============================
Panas mentari adalah sahabat
Dingin angin adalah sahabat
Tanah kering adalah sahabat
Lumpur pasir adalah sahabat
Tak usah menyalahkan panas
Sebab mentari hanya menjalani titah
Tak perlu mengumpat angin
Sebab sang angin hanya menjalani titah
Tak ubahnya tanah,
Ia basah bila hujan menjamah
Juga lumpur,
Ia gembur
Jika air mengguyur

Panas yang memanggang
Tak kau sendiri yang rasakan
Dingin yang menusuk tulang
Tak Cuma kau yang rasakan
Sebab Tuhan,
Menyelipkan hikmah dibalik setiap kejadian
Sebab tuhan,
Menyertakan pasangan agar kau tak bosan
Jika selalu panas,
Kau merindu hujan
Dan jika selalu hujan
Kau kebanjiran
Ada saatnya sendiri semua berganti
Hanya pandaikah kita atau tidak untuk mensyukurinya
Sebab semua kan indah pada waktunya

Senin, 20 Oktober 2014 11:28

Puisi Puisi Cinta Terbaik Full Desember

Puisi puisi cinta terbaik yang Puisi Indonesia bagikan kali ini merupakan puisi karya Hida Koma yang diciptakan langsung berdasarkan keadaan hati sang pengarang yang sebenarnya.

Ada banyak sekali puisi cinta karyanya yang dikirmkan ke admin, namun yang membuat saya tertarik adalah beberapa karya puisi cintanya yang akan puisi Indonesia bagikan berikut ini.

CINTA TANPA KOMA

Rindu itu kamu
Rindu itu hadirmu
Rindu itu bersamamu
Rindu itu ingat kamu
Rindu itu tentang kamu
Rindu itu juga kamu
Rindu itu masih kamu
Rindu itu selalu kamu
Rindu itu aku merindumu
Dan kamulah rindu yang ku rindu

01 Desember 2014


Tak ku sebut aku menjadi aku
Jika di hadapmu
Tak ku sebut kamu menjadi kamu
Jika di hadapku
Tapi ku sebut kita
Sayang kita tinggal kata
Dan kata tinggal “A”nya
Tinggal aku
Tak lagi ada kamu


02 Desember 2014


Bagaimana aku tak kembali menengok
Saat hendak berpaling
Kau kembali memanggil
Mengundangku ‘tuk tetap di situ
Aku mau,
Tanpa kau mintapun aku setuju
Tapi,
Yang terjadi
Jika sudah disini
Kau kembali acuhkanku
Bagai tak butuh
bagai tak perlu
lalu,
jika hendak melangkah
apa itu salah?
Bila . . .
Aku memang kau harapkan
Jangan hanya kasih harapan
Bila . . .
Engkau memang tak berkenan
Biar saja aku tinggalkan
Aku yang akan pergi dari kisah ini
Aku yang akan pergi
Mohon aku jangan kau undang kembali
Karena aku pasti mau
Tapi mencoba mengingkari
Tak mau lebih sakit lagi dari ini

02 Desember 2014
16:53

Allah . . .
Aku tak menduakanmu dalam cinta
Selain mencintai-Mu
Aku juga mencintainya
Bukankah juga kau berikan rasa ini pada makhluk-Mu?
Juga padaku ‘kan?
Dan jika aku benar-benar mencintainya
Apa tak berhak aku di cintai?

Allah . . .
Engkau yang memiliki cinta ini
Engkau yang Empunyai segalanya
Juga cintaku
Ijinkanku merengkuhnya sekali waktu
‘tuk membasuh rindu
Pandang mata hanya sekali saja
Itupun tak tentu

Allah . . .
Jika ku tak mampu merengkuhnya
Dan jika dia tak merengkuhku
Rengkuhkan kami dalam cinta dan ridho-Mu

02 Desember 2014
16:50


Biarkan penaku bernyanyi
Temukan nadanya sendiri
Tak usah kau campuri
Sebab kau enggan menemani
Aku,
Dengan pena-temanku-
Biarlah menulis kisahku
Jika harus ada kamu
Kan tetap ku tuliskannya
‘tuk lengkapi rumpangpincang kisahku sendiri
Meski bukan kamu yang menopang dan menongkati
Meski bukan kamu yang menyertai
Ijinkan tetap tegak berjalan
Jangan kau cegah!
Jangan kau cegah!
Sebab tak ada yang salah

02 Desember 16:58


Haruskah aku menangis bersama hujan sore ini
Agar kau mengerti
Betapa engkau ku rindui
Agar engkau tahu
Betapa hati mengharapmu
Tapi jejak basah yang ia tinggalkan
Tak jua mengabarkan
Seberapa lama lagi engkau tinggal
Entah!

02 Desember 2014
17:05


Hujan yang ku titipi pesan
Telah kembali datang
Tapi tidak bersamamu
tidak denganmu
kau kemana?
Hadirmu tak ada
Hujan hanya dengan tetesnya
Sedang pintu terbuka
Kau tak masuk juga
Kau kemana?
Sedari tadi ku menunggui
Di balik pintu ini kau ku tunggu
Tapi ketidakhadiranmu memaksaku kembali masuk
Berkasak-kusuk
Cemas meremas hati
Gelisah memendam luka lebam kekecewaan
Kau tak datang

02 Desember 2014
17:08


Sabar itu sulit
Sabar itu sakit
Sabar itu sedih
Sabar itu Menangis
Sabar itu menahan
Sabar itu tertekan
Sabar itu merelakan
sabar itu membosankan
tapi sabar tak pernah bosan
mengajakku untuk bertahan
hanya saja aku yang tak bernyali untuk menahan


02 Desember 2014

Bagaimana aku bisa berpaling
Saat akan beranjak
Kau datang memanggil

03 Desember 2014


Jika kau lihat
Penuh sudah pelupukku oleh airmata
Dari mataku untukmu
Jika kau tahu
Lelah sudah rinduku membelenggu
Dari hatiku untukmu
Jika kau mengerti
Sakit sudah cintaku menunggui
Dari rasaku untukmu
Jika
Tapi kau tidak

04 Desember 2014


Aku menangis
Menangis sejadi-jadinya
tanpa bantal
Tanpa bahu untuk bersandar
Tanpamu
Juga cinta dan kasih yang menenangkanku
Aku bersimpuh
Bersimpuh dalam keluh
Luruh sudah segala peluh
Tapi tanpa kau rengkuh
Tanpa kau basuh
Juga tanpa kau usap air mata yang lusuh
Tanpamu
Masih tanpamu

05 Desember 2014


Setidaknya aku tahu
Cinta yang ku rasa
Bukan aku yang mau
Tapi kehendak-Nya
Yang di titipkan-Nya padaku

06 Desember 2014
16:52

Apa kau juga tahu
Ada malam yang bisu
Menyendiri dalam sepi
Mengarak awan hitam menjauhi bulan
Sedang sang bulan tetap bersinar
Dengan atau tanpa awan
Hanya saja kadang tertutupi
Hingga kau tak tahui
Malam itu adalah aku
Sedang bulan adalah dirimu

06 Desember 2014
19:24

Aku tak pernah memintamu hadir
Tapi Dia yang izinkannya untuk mampir
Jika ini memang tertulis di buku takdir
Aku tak bisa mungkir
Tak bisa dengan begitu saja menyingkir
Aku dan dirimu adalah lembar-lembar yang terlampir

06 Desember 2014
19:29

Mungkin aku menangis untuk yang telah hilang
Tapi,
Aku masih bisa tersenyum
Untuk yang masih tersisa


07 Desember 2014
06:30

Tuhan . . .
Maaf
bukan aku menduakan-Mu
Tapi aku mencintainya

Kamu . . .
Maaf
Aku mencintaimu
Dan Tuhan tak ‘kan marah
Sebab aku mencintaimu

Aku . . .
Maaf
Aku tak bisa memilih satu atau dua
Sebab aku mencintaimu
Juga mencintai-Nya

07 Desember 2014


Kepada siapa
Ku tuliskan puisi ini
Jika bukan padamu?
Kepada siapa
Ku bacakan puisi ini
Jika bukan untukmu?

07 Desember 2014
18:12

Aku tak menyalahkan kamu
Jika telah buatku jatuh cinta
Tak juga menyalahkan waktu
Yang telah pertemukan kita
Cinta ini dan segala rasa
Adalah rekayasa dari-Nya
Sang Sutradara

07 Desember 2014
18:12


Andai bisa ku memilih
Bersamamu adalah pilihan
Namun jika pergi yang kau pilih
Itu sebuah keputusan
Aku tak berhak menego
Takhlukkan segala ego
Memintamu tuk tetap tinggal dan bertahan
Aku hanya bisa merelakan
Tapi dengan ini
Patutlah kau ketahui
Aku tak berhenti mencintai

07 Desember 2014
18:12


Tuhan . . .
Jika kami tak bisa saling mencinta
Jangan biarkan kami saling membenci


07 Desember 2014
20:49


Selamat pagi dunia
Sambut hadirku dengan tanganmu
Tuntun aku memijakjejaki waktu
Arahkanku jika ada yang salah
Di perbatasan senja lalu
Pernah ku katakan padamu
Di pagi nanti kita bertemu
Dan kini,
Saat waktu t’lah buat satu
Aku dan kamu
Duniaku
Ajaklah aku berkelana
Jelajahi semua
Tahu rupa-rupa
Dan belajar segala
Aku dan kamu
Duniaku
Tak terbatas pada senja
Meski sekat gelap merapat

08 Desember 2014
09:45

Selamat malam sayang
Mimpikan yang indah dalam tidurmu
Meski bukan aku
Tidurlah yang lelap
Aku dan bayangku
Tak’kan lagi datang mengganggu

08 Desember 2014
21:17

Angin yang berdesah rapikan ranting yang bergeming
Daun-daun gugur bagai salju musim dingin
Sedang mendung bergumul
Bertahta di kerajaaan langit
Seberkas sinar tiada berarti ‘tuk tawarkan terang
Semua tak peduli
Tak ada yang peduli
Sama sepertimu
Yang acuhkanku
Bagai tiada tahu
Kau diamkan dalam tanda tanya
Menunggu jawaban “karena”
Namun tiada
Dan tak kan pernah ada
Itu yang ada
Dan itu kenyataannya

09 Desember 2014
10:50


Sebut saja angin
Yang antarkan dingin
Juga sejuk kala panas merasuk
Sebut saja senja
Yang indah di ujung hari dengan warnanya
Juga mega penghiasnya
Tapi,
Kau tak pernah sebut cinta
Padanya yang setia
Bersedia kapanpun juga
Selalu ada setiap apa
Kau acuhkannya
Tanpa sedikit hargai adanya
Kau tak pernah sebut rindu
Padanya yang menunggu
Menanti hadir juga kabarmu
Setia bersama lara dan duka
Yang berliku sebab mencintamu
Kau tak pernah sebut dia kekasihmu
Kau tak pernah sebut dia pacarmu
Padahal kau yang meminta
Kau yang mau
Dia,
Adalah aku
Dengan cintanya yang kau sia

09 Desember 2014
11:05


Tak usah merapatkan bibir
‘tuk ingkari takdir
Katakan, jika perlu waktu berpikir
Kan ku tunggu
Dan terima putusanmu
Kehendakmu, itu yang kau tindak
Bukan mauku yang kau perlu
Kan ku hormati
Dengan segenap hati
Meski hatiku tak genap lagi
Olehmu separuhnya tercuri
Sebagiannya lagi
Tertinggal bersama harapan yang kau abaikan
Bukan karena ku dungu
Tak tahu tanda yang memandu
Tapi senja terlanjur berlalu
Tak berhak ku memintanya tinggal
Sebab dia yang mengajakku pergi
Beranjak darimu
Juga harap tentangmu
Tapi ku menolak
Aku masih bersamamu
Bersama acuh ketidakpedulianmu
Dan sampai senja berkali berganti
Aku masih disini
Dan tetap disini

09 Desember 2014
11:15

Selamat pagi sayang . . .
Sambut harimu dengan senyum mengembang
Meski kata terucap
Dan tulisan tercap
Tak sampai padamu
Ada mentari yang mewakiliku
Ada fajar yang menggantikanku
Baik-baiklah kau di situ
Meski bukan aku yang di sisimu
Tapi dari jauh aku mendoakanmu
Berharap yang baik selalu menyertaimu
Sayang . . .
Sampai nanti di perjumpaan
Kalau tidak
Sampai nanti di perpisahan

10 Desember 2014
05:46


Untuk sejenak
Bisa ku relakan ku kau nafikan
Untuk sekejap
Bisa ku alihkan ingatku ‘tuk tak mengingatmu
Tapi kemudian
Semuanya kembali
Kembali aku mengingatmu lagi
Dan mengingatmu


10 Desember 2014
08:30


Sayang . . .
Tak usah kau minta
Ku kan datang
Dengan segudang kasih dan sayang
Kan ku rengkuh dikau
Dengan segala cinta yang ku punya
Tak kan ku biarkan dingin
Membuatmu menggigil
Aku yang akan menyelimutimu
Aku yang akan hangatkan dirimu
Sayang . . .
Sambutlah
Di haribaanmu aku berserah

12 Desember 2014
17:17


Tak usah kau cari
Sedang apa dan dimana
Dengan siapa dan kemana
Sebab dari kemarin
Aku masih memikirkan
bagaimana cara menuang kata
dan sampai saat ini
aku belum menemukannya


13 Desember 2014


Aku adalah anak angin
Yang tak tahu musim
Tak perlu kau memintaku
Takhlukkan terjal jurang
Dan lembah yang curam
Bagiku mereka adalah kawan
Dan kami telah lama berteman
Sudah biasa


14 Desember 2014
04:30


Setiap pena yang ku paksa tuk bertulis kata
Ada kebebasan yang ku renggut haknya

Maaf
Bukan aku kejam
Bukan pula tak berperasaan
Setitik hitam di atas putih ingin ku raih
Kau paham kan maksudku?
Ku harap demikian

Tapi sang waktu mengajakku berdebat dalam pendapat
Merapat dalam sekat
yang semakin terpisah pada jurang perbedaan
wajar bukan?
Tapi tidak baginya
Ia tetap memaksa dengan kata
Yang di tegakkannya
Tidak atau ikuti!
Tidak!

Sudah kau temukan jawabku bukan?
Mengapa kau masih berdiam?
Tak inginkah kau beranjak?
Berontak pada mereka yang tak berpihak

Oh,
Apa hanya dengan aku kau memaksakan kehendak?
Kau adalah angin yang tebarkan dingin
Pada pohon yang kedinginan
Kau tetap semilir
Ya,
Sedang aku hanya sang pohon
Yang tak bisa lari ataupun pergi
Meski memohon
Kau tetap dengan asamu
Tiupkan yang termaktub


14 Desember 2014
16:02


Setidaknya hati telah bertahan
Untuk cinta yang pergi
Bahkan menghilang
Bukanlah kesalahan yang mesti di persalahkan
Biarkan dia menentukan pilihan
Sama seperti ketika dia memutuskan untuk memilih kita
Dan kini,
Ketika saatnya dia pergi
Bukakan pintu hati
Dan tunjukkan jalannya untuk keluar
Meski hujan bening di sudut mata tak terhindarkan
Tapi, berusahalah untuk tegar
Rapuh dan kadang berpeluh itu biasa
Dia adalah sebagian dari proses dewasa


14 Desember 2014
17:41


Gelap ini bukan buta
Aku masih melihat sinar cinta di wajahmu
Meski tak menatapmu
Gelap ini bukan raja
Aku masih menjadikanmu damba
Dalam sanubari ini
Meski kau tak lagi disini
Gelap ini tanpamu
Dan tanpamu aku buta dalam kegelapan


16 Desember 2014
21:07


Masih kau dengar angin berhembus, kan?
Apa yang dia katakan
Apakah ia menyampaikan kerinduanku padamu?
Atau
Apakah ia mengatakan bahwa aku masih menunggu
Ahh . . . sayang kau tak mendengar
Dan sayang kau tak merasakan
Apapun yang ia utarakan
Tak kau pahami
Tak kau selami
Hembusnya bertujuan
Kau . .  tak peka


16 Desember 2014
21:10


Titip gelap malamku
Tuk kau terangkan dengan cahyamu
Meski ku tahu kau bukan kunang-kunang
Juga bukan rembulan
Tapi dimatamu
Sinar itu ku temu
Di setiap sudut kelopakmu ada ruang kedamaian
Yang tak bisa ku jelaskan
Bolehkah ku tahu untuk siapa ruang itu?

14 Desember 2014
21:01


Ada gelap yang tak lenyap
Saat terang melahap
Ada hati yang tak berhenti berharap
Meski sakit menghadap
Dia masih terlelap
Dalam mimpi ‘kan bertatap


15 Desember 2014
19:02


Berapa kali harus ku katakan
Tak ada hujan
Tanpa mendung di awalan
Kau tahu
Berpa rintik hujan yang basahi tanah
Pernahkah kau menghitungnya?
Dan aku yakin kau tak mampu menghitungnya
Demikian aku
Dan kau tahu,
Cinta dan rinduku lebih dari itu


17 Desember 2014
18:47


Semburat petir di kaki langit
Di ujung gunung sana
Tak ada yang tahu dari mana
Begitu juga cinta ini
Tak pernah ku tahu dari mana awalnya
Tiba-tiba saja ada merajai kita
Dan Maha Suci Tuhan yang menitipkannya
Untuk kita jaga, bukan?
Tidak untuk kita buang atau hilangkan
Dan atau tanpa kebersamaan
Sebab itu hanya tentang waktu
Dan jarak tak bisa terukur dengan rindu


17 Desember 2014
18:52


Langit malam ini tak menangis
Meski basah pipi bumi
Bukan kekompakan atau jejodohan
Jika langit gelap tanpa bintang
Lalu bumi lampunya padam
Tapi jika memang
Haruskah yang jejodohan selalu dengan kemiripan?
Bulan saja menyangsikan kebenaran cahaya yang di dapatkannya
Sebab dalam gelap malam ini ia tak terlihat
Mendung menghadang jalan
Menjadi sekat di halang rintang tengah jalan
Ya,
Menunggu, mungkin pilihan
Tapi bukan jalan satu-satunya ‘tuk bertahan
Dan bila mentari pagi menjatuhkan palu terangnya
Apa guna sang bulan?
Dia hanya pucat pasi yang tersamarkan
Hanya, tanpa penjelasan selanjutnya
Tapi maaf
Jangan kira akhir t’lah berakhir
Dia masih percaya takdir
Dia dengan segala sinarnya
‘kan bersinar pada waktunya

Bulan itu aku
Dan akulah sang bulan yang hilang dalam kegelapan
Sebab sinarku teramat temeram ‘tuk sinari malammu

17 Desember 2014
19:11


Berserakan daun gugur di taman
Bangku usang terlanjur membisu dalam hening
Tak bergeming
Tetes demi tetes embun bening menetes
Tiada lain
Kebumilah jatuhnya
Kamulah sang embun
Dan ku berharap jadi buminya
Kemanapun cintamu berkelana
Padakulah nanti kan bermuara


17 Desember 2014
19:23


Berapa hari yang mesti ku ganti
Untuk menukar harimu yang hilang?
Bukankah kau sendiri yang mengatakan
Bahwa yang terkenang sejatinya tak’kan terulang


17 Desember 2014
14:04


Bukan seperti penyebut yang harus di samakan
Atas permintaan pembilang
Tak kan bisa sama
Tak sama
Meski gema persamaan gender telah di kumandangkan
Firman-Nya tak kan tergantikan dengan Undang-Undang
Tetap “Arrijaalu Qowwamuuna ala an Nisa”


17 Desember 2014
21:03


Dicampakan malam pada kedinginan
Sudah biasa
Di tampar siang dengan panas memanggang
Juga biasa
Di acuhkan pacar pada pengharapan
Masih biasa
Lalu,
Apalagi yang mesti di sesali?
Hidupku bukan ku abdikan pada penyesalan

17 Desember 2014
21:28


Kami dan kamu
Tak sama
Kami dan kamu
Tak bisa setara
Kamii dan kamu
Berbeda
Kami dan kamu
Adalah kami dan kamu
Tak bisa satu jadi kamu
Dan tak bisa sendiri jadi kami

Jika kamu di sediakan sejuta pilihan
Kami hanya punya Satu
Dan itu mesti di jalankan
Jika kamu berhak menentukan pilihan
Kami di pilihkan
Dan jikapun memilih sendri
Mesti ada persetujuan

Itu kami dan kamu
Kaumku dan kaummu

17 Desember 2014
21:12


Dengarkan sang bening jatuh dari genteng
Nikmati melodi alam
Yang tak kan pernah kau temukan
Dalam orchestra manapun
Dari yang di sebut mendung
Juga petikan jentik petir di ufuk timur
Dengarlah...
Jangan dulu mendengkur

Di hujan malam ini, 17 Desember 2014
22:16



Ingin kau ada di sini
Ingin kau yang temani
Biar hujan basuh wajahku
Dengan gerimisnya
Tapi tidak untuk luka sepiku
Dan kau,
Tiada mengerti itu
Tak peduli
Sedangku masih berselimut sunyi
Dalam dekapan sepi

18 Desember 2014


Perasaanku biasa
Sampai akhirnya kau dengan statusmu berkata
“Dapat ucapan selamat darinya...”
Dari siapa?
Tanyaku segera
Ah...aku kenapa
Bukankah tadinya baik-baik saja?
Oh,
Aku kenapa?
Ada apa denganku?

19 Desember 2014


Kau tahu,
Berapa banyak waktu yang ku habiskan ‘tuk memikirkanmu?
Tak banyak,
Sehari hanya sampai di angka dua belas
Sama seperti bulan ini,
Bulan ke dua belas
Tapi aku,
Tak pernah kehabisan waktu untuk itu
Tak pernah,
Dan masih memikirkanmu
Tahukah?
Sayang kau tak tahu

20 Desember 2014
18:10


Lihatlah,
Kau akan tetap melihat senyumku mengembang
Meski panas hatiku kau panggang
Aku,
Dengan segala cinta yang ku punya
‘kan tetap menggema
Silahkan kau baca
Jika tidak,
Cukup dengan mengeja
Itu saja

20 Desember 2014
18:36



Kamu...
Siapa kamu?
Aku sampai tak tahu
Aku sampai lupa caranya memanggilmu
Harus ku panggi apa sekarang,
Saat ini,
Teman, Terlalu berlebihan
Pacar, Kedeketan
(padahal tak terlalu dekat)
Musuh, Jauh
(nggak bikin rusuh)
Lalu?
Dengan apa ku panggilmu
Bagaimana ku menyebutmu
Takutku, kau anggap ngaku-ngaku
Kamu, siapa kamu?

20 Desember 2014
20:48


Tak ku peduli malam apa ini,
Sebab rindu tak terbelenggu
Hanya sebatas sabtu minggu

Di malam minggu, 20 Desember 2014
21:00


Kau berlalu
Bagai BLUE DESTINY novelku
Yang hilang tadi siang
Entah,
Kemana rimbanya bertandang
Pun juga kamu
Yang datang lalu melenggang
Kemana?
(ke hatiku saja)

21 Desember 2014


Ada malam yang tak gelap
Sebab hitam
Ada malam yang selalu terang
Malamku dan malammu
Malam kita

22 Desember 2014
21:11


Yang ku jaga hilang seketika
Tak ada lagi yang bisa buatku bangga
Aku bukan lagi yang dulu
Siapa?
Entah
Aku tiada tahu
Tiada kenal
Sesal mengganjal
Akal menyangkal
Tapi yang terjadi
Huft... Biarkan
Sudah terlanjur kejadian
Tak bisa ku tarik ulur ‘tuk mengulang

Kissing tragedy, 23 Desember 2014


Dan,
Hujanpun turun di lembah kasih
Basahi setiap kerontang hati yang gersang
Terpanggang oleh cemburu yang mencumbu
Kau tahu, berapa banyak hujan yang turun kali ini?
Tidak, jawabmu
Bagaimana kau tahu
Melodi rintiknya atas genteng saja
Tak kau dengarkannya
Mana mungkin kau meluangkan waktu
Tuk sejenak menghitung
Hujan telah buntung
Sebelum mencapai bumi
Kau lucuti tanpa peduli
Huft... percuma ku beri tahumu
Kau tak mau tahu
Innocence-nya dirimu
Ya innocence

22 Desember 2014
13:02


Hanya lembar kenang yang tertinggal
Bersama setiap kata dari pesanmu
Yang ku baca ulang
Sayang,...


27 Desember 2014
20:15


Jangan ingatkan aku tentang malam minggu
Sebab aku sering lupa akan itu
Karena setiap sabtu maupun minggu
Tak lagi ada kamu

27 Desember 2014
20:27


Dan akhirnya,
Semua akan tiba pada waktu yang di tentukan
Bukan di nantikan

28 Desember 2014
21:18


Ku pindahkan tangan
Ke pelukan malam
Yang berjubah hitam
Dia mendekapku erat pada hening
Dan sepi tak bertepi
Kaku,
Membekuku pada diam yang bungkam
Juga bisu yang pilu

29 Desember 2014
21:15


Kau bilang aku pujangga
Padahal,
Aku tak punya seuntai kata
Yang bisa ku persembahkan untuk anda
Kau bilang aku penyair
Padahal,
Yang ku punya hanya segelintir
Itupun kadang nyindir
Sebilah kata yang lahir dari pena jariku
Kadang melukaimu
Aku dan kataku
Hanya itu

29 Desember 2014
21:26


Lembar demi lembar
Juga garis yang berbaris
Pernah ku isi dengan abjad
Ku eja per kalimat
Dan ku baca jadi cerita
Kini, sebelum cerita itu tamat
Aku hendak tambahkan sekelumat hasrat
Yang lama melekat
Mendekap erat di dinding sanubari
Dan terpatri di hati
Sebelum yang terakhir dan sebelum berakhir
Ingin ku ukir
Mungkin, ku tak paham menafsir
Tapi ku mau berpikir
Dan mencoba berpikir
Semoga ikhlas jalani takdir

29 Desember 2014
21:36


Juga pada malam yang menghitam
Dan pagi yang terang
Masih padamu rindu bersandar
Walau harus terdampar dan terkapar
Di sudut entah
Yang tak berkisah
Kau masih bisu
Dengan jamuan hening malam yang kau diamkan
Tak kau sentuh nyala lilin
Meski bergoyang pelan undang perhatian
Kau tak bergeming
Dan masih tak bergeming
Sayang,
Lihatlah
Betapa rindu merayuku

30 Desember 2014
20:58


Kau rindu bulan?
Sama
Aku juga

Tapi sayang,
Kau tak tanya
“apa kau juga rindu aku?”
Dan segera kan ku jawab
“ya, aku merindumu
Sangat merindu”

Kau,
Di antah berantah mana
Tengah kau singgah
Dimana?

Tahukah,
Betapa rindu menjarah waktuku
Merenggut detik demi detik
Dari tiap angka yang bertanya
Aku lelah
Dan bagai tak ku tahu
Harus jawabnya apa
Kau ada bukan?
Tapi bagai tiada
Tenang,
Aku yakin kau ada
Meski hadirmu antara tiada dan ada

Bukankah sang maha cinta
Tengah mempersiapkan rencana untuk kita
Ya, kita
Kau dan aku
Bukan begitu?
Hehehe tunggulah
Jangan terburu berkilah
Takdir tak ‘kan salah

30 Desember 2014
21:07


Tak ada rindu yang mengundang sakit
Begitu katamu
Jika saat ini
Dan kemarin hari
Aku sakit sebab merindumu
Apa kau masih akan berkata
“tak ada rindu yang mengundang sakit”

Ahh,..
Kau memang begitu
Kepala batu
Tapi ku tahu
Kepalamu tak batu

Oh,
jadi itu maksudmu
sekarang aku tahu
tak ada rindu yang mengundang sakit
yang ada hanya “sakit rindu”

30 Desember 2014
21:15


Senja berakhir indah
Begitu juga fajar yang mekar
Lalu, apa yang membuatmu gundah
Lelah?
Bingung memilah?
Takut salah?
Menghindari fitnah?
Atau ingin berkilah dari takdir yang tak selalu indah?

Ckckckckckckckck
Sudahlah
Usaikan saja gundahmu
Itu hanya penghalang untukmu maju
Sedang waktu terus melaju
Dan jika kau tak tepat waktu
Bersiaplah terlindas
Dan semakin tertindas

Bagaimana,
Semakin melas bukan?


30 Desember 2014
21:24


Kau kah itu?
Peri yang sempat membuatku berkhayal
Dan berhalusinasi
Meski tak masuk akal
Dan kadang menjengkelkan
Ku tahu
Tapi tak juga mau mengakui
Hanya mimpi

Dan kau kah itu?
Sang dewa yang ajarkan damai semesta
Tebarkan benih kepedulian untuk semua
Bodohnya aku
Meski ku tahu
Kau dengan segala acuhmu
Telah tunjukkan ketidakpekaan
Namun, lagi-lagi aku kembali
Percayai segala dongeng
Yang kau bacakan lagi malam ini

30 Desember 2014
21:46


Kembang api...
Juga percikannya malam ini
Katakan padanya
Jangan cari aku diantaramu
Sebab aku telah lebih dulu meledak
Hancur dan melebur
Sebelum nyembur sampai di langit

Terompet...
Juga bunyi dari nafas yang kau hembuskan
Katakan padanya
Jangan cari aku diantaramu
Sebab aku telah lebih dulu
Kau tiup menjauh
Sebelum berbunyi indah

Kamu,
Yang katanya mencariku
Ku katakan tak perlu
Jangan cari aku ditahun baru
Sebab aku
masih ada di lembar halaman terdahulu
Seberapa sering kau bolak
dan kau balik
masih sama adanya
disini,
tanpamu

31 Desember 2014
19:29

Puisi-puisi cinta terbaik Hida Koma

Judul Puisi    : Cinta Tanpa Koma
Pengarang    : Hida Koma (Hidayatun Ni’mah)
Seri             : Bulan Desember 2014
Facebook    : www.facebook.com/hidakoma
Email          : hidakoma@gmail.com
Twitter         : @hidakoma

Puisi-puisi cinta diatas kami bagikan atas seizin dari pemilik/pengarang. Siapapun dilarang menyebarkan melalui media apapun atau mengomersialkan puisi diatas tanpa seizin dari pengarang. Apabila ada pihak yang tertarik untuk bekerjasama atau menerbitkan puisi-puisi cinta karya Hida Koma silahkan menghubungi Admin atau pengarangnya langsung. Terimakasih dan salam cinta !

PUISI RENUNGAN “MALIKINNAAS”

Puisi renunganMalikinnaas” ini merupakan puisi hikmah penyejuk jiwa sekaligus doa seorang hamba kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sang Khaliq).

Puisi dengan judul Malikinnaas menjadi puisi hikmah yang dapat dijadikan puisi renungan jiwa untuk membangun mental spiritual kita.

Puisi renungan dengan judul Malikinnaass.

MALIKINNAAS

Menengadahku dalam harap
Sebelum ku langkahkan kaki menuju-Mu
Menunduk bukan alasan tak ku agungkan-Mu
Atau pelarian menghindari tatapan-Mu
Tapi.....
Lumuran dosa dan khilaf yang selimutiku
Teramat sangat membuatku malu
Aku,
Dihadap-Mu
Tak ubahnya debu
Sedang debu lebih mulia dariku

Rabbi penguasa alam ini
Yang di tangan dan genggaman-Mulah
Segalanya berpunya
Rabbi malikinnaas
Pemilik nafas
Juga lafaz
Tempat segalanya meminta dan memelas
Tempat mengadu segala perlu
Tempat bersandar yang tak berakar
Tempat berlabuh yang perpeluh

Aku,
Merindu-Mu
Mendamba hakikat,
Aku,
Merindu-Mu
Kau pelukku erat
Dalam bubuhan doa yang ku ucap

Hida Koma, KB, 19 Oktober 2014 09:55